5 Prinsip Utama BMT

 

 

BMT selama ini dikenal sebagai lembaga yang tidak hanya memiliki fungsi sebagai lembaga keuangan mikro tetapi juga memiliki misi pemberdayaan umat melalui pelayanan pembiayaan berbasis syariah kepada masyarakat lapisan bawah serta misi sosial dan dakwah.  Hal inilah yang membedakan antara BMT dengan lembaga keuangan mikro lainnya.

BMT dalam prakteknya menggunakan prinsip-prinsip yang berbeda dengan lembaga keuangan mikro konvensional (berbasis bunga). BMT mengembangkan sistem bagi hasil (Mudharabah, Musyarakah), sistem mark-up (Murabahah, Bai’u Bithaman Ajil, Bai Assalam, Bai Istishna’), sistem sewa (Ijarah), dan pinjaman kebajikan (Qard al Hasan) sehingga diharapkan semua pihak (Baik BMT maupun penerima pembiayaan) dapat memperoleh keuntungan sehingga BMT dapat mengembangkan kelembagaanya serta dapat membantu usaha mikro untuk memperbaiki kualitas usahanya. Sistem BMT berbeda dengan sistem lembaga keuangan mikro konvensional dimana hanya salah satu pihak saja yang dijamin keuntungannya dengan membebankan bunga untuk mengembangkan kelembagaannya.

Dengan demikian, BMT yang menggunakan sistem Islam dapat menjembatani kepentingan kelembagaan maupun usaha mikro. Walaupun demikian, beberapa sistem di BMT seperti sistem bagi hasil, sistem mark-up, sistem sewa belum dapat menyentuh masyarakat lapisan terbawah, dapat diselesaikan dengan mengimplementasikan pembiayaan Qard al-Hasan, yaitu pinjaman dengan mengembalikan pokok modal saja dengan sumber dana berasal dari zakat, infaq dan shadaqah yang ditangani Baitul Maal.

Untuk melaksanakan sebagaimana yang disebutkan di atas, BMT harus mempunyai prinsip-prinsip yang dapat digunakan sebagai pegangan operasional sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai BMT dengan baik. Prinsip-prinsip BMT yag digunakan untuk menjalankan misinya adalah prinsip keuangan Islam.

Menurut Widiyanto dkk, dalam bukunya yang berjudul BMT: Praktik dan Kasus (2016), ada lima prinsip utama BMT, yaitu

  1. Percaya kepada bimbingan Ilahi (melalui Al Qur’an dan Sunnah)

Pada hakikatnya, manusia tidak bisa lepas dari bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menjadi prinsip utama dan prinsip dasar BMT untuk bergerak melaksanakan misinya.

 

  1. Tidak ada bunga riba

Larangan riba adalah salah satu unsu ekonomi Islam. Penghapusan riba dalam sistem ekonomi bertujuan untuk mengutamakan hubungan ekonomi yang adil, dan tidak merugikan salah satu pihak. Selain itu, pada sistem bunga terdapat penindasan melalui eksploitasi dan diartikan sistem bunga mentransfer kekayaan dari orang miskin ke orang kaya. Oleh karena itu, penegakan pelarangan riba adalah salah satu cara untuk menegakkan keadilan antara pemberi dana dan pengusaha.

 

  1. Tidak ada investasi haram

Islam juga melarang semua kegiatan yang haram termasuk investasi dan melarang mencampurkan semua kegiatan yang haq dan bathil dengan maksud agar terhindar dari pebuatan yang merugikan manusia itu sendiri.

 

  1. Berbagi resiko

Pembagian resiko juga penting untuk menegakkan keadilan dalam sistem ekonomi sehingga semua pihak mendapatkan keuntungan dan tidak ada yang dirugikan salah satu pihak. Sistem ini juga disebut sistem profit and loss sharing, dimana kedua belah pihak sama-sama memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.

 

  1. Ta’awun (bekerja sama)

BMT sebagai lembaga keuangan mikro yang berprinsip Islam dalam setiap aktivitasnya, memiliki tanggung jawab sosial sebagai lembaga yang tidak hanya menekankan pada keuntungan lembaga tetapi juga kebermanfaatan lembaga tersebut kepada masyarakat khususnya masyarakat lapisan terbawah dengan membantu meningkatkan kualitas usaha mikro.

 

Dengan lima prinsip tersebut, BMT diharapkan dapat beroperasional yang tidak hanya mengutamakan kelembagaan tapi juga kebermanfaatan sosial.  Dengan kata lain, BMT juga perlu mempertimbangkan profitabilitas sebanyak-banyaknya tetapi juga harus memebrikan dampak positif untuk pengembangan usaha mikro sehingga dampak meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengentaskan kemiskinan.

Sumber: Sumber: Widiyanto, Abdul Ghafar Ismail, dan Kartiko A Wibowo. 2016. BMT: Praktik dan Kasus. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

 

Related posts

Leave a Comment