Apakah Koperasi Masih Sanggup Memberdayakan Perekonomian Rakyat?

Koperasi di Indonesia adalah lembaga yang diberi mandat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. Setelah 72 tahun dalam perkembangannya, koperasi di Indonesia masih tidak berkembang dengan baik. Sedangkan di negara lain koperasi terbukti menjadi organisasi bisnis yang sukses.

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah usaha yang sudah terbukti berhasil dalam mengatasi berbagai krisis. Di Indonesia ketika krisis moneter terjadi di tahun 1997 UMKM terbukti mampu untuk tetap eksis dan berkembang dan menjadi penyelamat perekonomian bangsa berkat kemampuannya memberikan sumbangan yang signifikan kepada Produk Domestik Bruto (PDB) maupun penyerapan tenaga kerja. Jika dilihat dari keseluruhan struktur ekonomi, dari 39,72 juta pengusaha yang saat ini ada, sekitar 39,71 juta atau 99,97% adalah pengusaha mikro, kecil dan menengah (terkenal dengan singkatan UMKM). Lebih jauh, sekitar 98% dari jumlah itu didominasi oleh pengusaha mikro (Heryadi, 2004 : 1). Dalam perjalanan waktu sampai saat ini, UMKM perlu semakin mendapatkan perhatian yang besar dari pemerintah secara khusus karena perannya dalam membangun perekonomian nasional Indonesia semakin besar.

Kecenderungan kemampuan UMKM memberikan sumbangan yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian suatu negara tidak saja terjadi di Indonesia dan negara-negara berkembang, namun juga terjadi di negara-negara maju. Di Asia, perkembangan sektor UMKM ini juga dilihat sebagai salah suatu jalan keluar dari krisis ekonomi (Sadli:1999).

Masalah kekurangan modal memang seringkali menjadi penghambat utama untuk memulai sebuah usaha yang mandiri. Tetapi dengan dibentuknya koperasi primer, maka kesulitan akan modal ini bisa semakin diatasi. Misalnya melalui pembentukan koperasi konsumsi sebagai langkah awal yang diharapkan bisa memiliki sisa hasil usaha untuk dijadikan modal dalam bidang usaha lainnya. Kreativitas berfikir bisa digunakan untuk mengatasi masalah permodalan. Hanya yang menjadi masalah adalah karena kurangnya tingkat pendidikan, maka kreativitas ini menjadi kurang pula. Untuk itu, untuk sementara masih diperlukan bantuan dunia pendidikan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk menjadi pendamping para UMKM dan koperasi dalam mengelola usahanya.

Koperasi tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi di berbagai belahan dunia lainnya juga. Misalnya di Jerman koperasi sudah dikenal sejak tahun 1864 dengan dibentuknya koperasi kredit pertama oleh Friedrich Raiffeisen, bapak koperasi Jerman. Di Inggris dan Amerika Serikat, koperasi perumahan juga telah dikenal sejak tahun 1800-an yang dibentuk oleh Robert Owen, salah satu pelopor manajemen.

Sejarah menunjukkan kalau keberhasilan sebuah koperasi dalam memberikan manfaat pekayanan ekonomi sebaik mungki kepada anggota-anggotanya ditentukan oleh penerapan konsep-konsep bisnis. Koperasi di negara-negara maju banyak memberikan kontribusi yang besar pada perekonomian negaranya. Dalam industri anggur, tercatat bahwa 30% anggur produksi Jerman dihasilkan oleh koperasi, tetapi Italia terbukti memiliki koperasi yang paling kuat karena 50% produksi anggurnya dikontrol oleh lebih 600 koperasi.

Pengembangan koperasi hendaknya dilakukan oleh berbagai pihak. Pemerintah dalam menegakkan hukum dan aturan yang berlaku, serta melakukan pembinaan melalui program-program Kementrian Koperasi dan UMKM. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bisa membantu koperasi mendapatkan suntikan dana, serta dari akademisi untuk membantu meningkatkan kualitas dan kapasitas pengurus serta pengelola koperasi. (li)

Related posts

Leave a Comment