Ikosindo Summit 2017, Memperkuat Koperasi Syariah

KARANGANYAR – Insan Koperasi Syariah Indonesia (Ikosindo) merumuskan langkah-langkah setahun kedepan untuk memperkuat kelembagaan koperasi syariah dan baitul maal wa tamwil (BMT). Acara yang diikuti 250 Koperasi Syariah dan BMT di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Ikosindo itu digelar di Lor In Hotel Solo, Selasa-Rabu (8-9/8).

Sejumlah narasumber berlevel nasional akan membekali peserta dengan berbagai strategi untuk memajukan lembaga mereka selama dua hari. Deputi Produksi dan Pemasaran Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), I Wayan Dipta, mengatakan jumlah koperasi di Indonesia sekitar 151.000 unit. Sekitar 4.000 diantaranya adalah koperasi syariah dan BMT. Total aset yang dikelola koperasi syariah maupun BMT mencapai Rp130 triliun.

Merujuk pada data Bank Indonesia (BI), akses UKM ke perbankan hanya sekitar 201% sehingga peranan koperasi, koperasi syariah, dan pembiayaan mikro sangat besar. “Serapan tenaga kerja oleh UKM mencapai 97% atau sejumlah 114 juta orang bekerja pada UKM. Tetapi akses UKM ke perbankan masih sekitar 21%. Ada empat faktor yang menyebabkan rendahnya akses mereka yakni formalitas, skala kredit yang dibutuhkan, masalah kolateral, dan informasi dan perbankan,” kata dia kepada wartawan di sela-sela Ikosindo Summit 2017 di Lor In Hotel Solo, Selasa (8/8).

Sementara itu, Komisi VI DPR RI segera menggodok draf Rancangan Undang-Undang (RUU) dan naskah akademik dari kementrian koperasi dan UKM. Anggota Komisi VI DPR RI yang juga Plt. Ketua Ikosindo, Muhammad Martri Agoeng, mengatakan legislator sudah menerima draf RUU dan naskah akademik tersebut.

UU tersebut sangat penting karena UU perkoperasian yang dipakai sekarang sudah usang. UU yang dijadikan landasan hukum koperasi saat ini adalah UU No. 25 Tahun 1992 setelah Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan UU No. 17 tahun 2012 tentang perkoperasian. Martri menambahkan legislator akan memberi penekanan dalam hal sanksi. (Danur LP/SOLOPOS)

Related posts