Jenis-jenis Pembiayaan BMT (Bagian 1)

 

Baitul Maal wat Tamwil  (BMT)  dikenal sebagai lembaga keuangan syariah yang berfungsi sebagai penyalur dana dari anggota kepada pihak penerima anggota. Dalam aktivitasnya, BMT mempunyai berbagai bentuk simpanan. Dari simpanan tersebut, berkembang menjadi berbagai macam pembiayaan. Pembiayaan merupakan . Aktivitas pembiayaan sangatlah penting untuk penunjang kelangsungan hidup BMT sehingga pengelolaan pembiayaan harus dilakukan secara terukur, terencana dan termonitori dengan baik agar tidak menimbulkan permasalahan bagi BMT. Dengan pembiayaan, BMT dapat memperoleh manfaat berupa pendapatan bagi kelangsungan BMT sedangkan bagi anggota, mereka dapat terus melangsungkan dan mengembangkan usahanya.

Berdasarkan tujuan penggunaannya, pembiayaan yang dilakukan oleh BMT, dibedakan menjadi

  1. Pembiayaan Modal Kerja, yakni pembiayaan yang ditujukan untuk memberikan modal usaha antara lain pembelian bahan baku atau barang yang akan diperdagangkan.
  2. Pembiayaan Investasi, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk modal usaha pembelian sarana alat produksi dan atau pembelian barang modal berupa aktiva tetap/inventaris.
  3. Pembiayaan Konsumtif, yakni pembiayaan yang ditujukan untuk pembelian suatu barang yang digunakan bukan untuk kepentingan produktif.

Sedangkan, berdasarkan cara pembayarannya maka pembiayaan dibedakan menjadi

  1. Pembiayaan dengan angsuran pokok, margin/bagi hasil periodik, yaitu angsuran jenis pokok dan bagi hasil dibayar/diangsur secara periodik berdasarkan waktu yang telah ditentukan misalnya bulanan.
  2. Pembiayaan dengan bagi hasil/margin periodik dan pokok di akhir, yakni untuk bagi hasil dibayar/diangsur secara periodik sedangkan pokok dibayar sepenuhnya pada saat akhir jangka waktu angsuran.
  3. Pembiayaan dengan angsuran pokok dan bagi hasil/margin di akhir, yaitu untuk pokok dan bagi hasil dibayar pada saat akhir jangka panjang waktu pembiayaan dengan catatan jangka waktu maksimal 6 (enam) bulan.

Dalam hal pembayaran, BMT dapat mengadopsi sistem angsuran yang sering dilakukan lembaga keuangan secara umum. Namun dalam hal ini hanya metodenya yang dipakai, sedangkan akad dan obyek pembiayaan harus sesuai dan mengacu pada prinsip-prinsip syariah. Artinya metode ini hanya dalam hal cara mengangsur atas akad-akad pembiayaan yang telah disepakati.

Metode hitung angsuran yang digunakan yaitu:

  1. Efektif, yakni angsuran yang dibayarkan selama periode angsuran. Tipe ini adalah angsuran pokok pembiayaan meningkat dan bagi hasil menurun dengan total sama dalam periode angsuran.
  2. Flat, yakni angsuran pokok dan margin merata untuk setiap periode.
  3. Sliding, yakni angsuran pokok pembiayaan tetap dan bagi hasilnya menurun mengikuti sisa pembiayaan (outstanding).

Pembiayaan oleh BMT dapat mencakup tiga jangka waktu: jangka waktu pendek (pembiayaan dengan jangka waktu sampai dengan satu tahun), jangka waktu menengah (pembiayaan dengan janga waktu lebih dari satu tahun sampai dengan tiga tahun), dan jangka waktu panjang (pembiayaan dengan jangka waktu lebi dari tiga tahun). Sektor usaha yang dibiayai BMT dapat meliputi sektor perdagangan (contoh:  pasar, toko kelontong, warung sembako dan lain-lain), sektor industry (contoh: home industry, konveksi, sepatu), konsumtif (contoh: kepemilikan kendaraan bermotor/rumah) dan sektor jasa (contoh: jasa angkutan, hotel dan jasa lainnya).

 

Sumber: Widiyanto, Abdul Ghafar Ismail, dan Kartiko A Wibowo. 2016. BMT: Praktik dan Kasus. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Related posts

Leave a Comment