Koperasi Menyambut Tantangan Teknologi Informasi

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), pada 2016, lebih dari separuh penduduk Indonesia sudah terhubung dengan internet. Data tersebut mengungkapkan, penetrasi internet di Indonesia sudah menyentuh 132,7 juta dari total 256,2 juta penduduk Indonesia (51,8 persen populasi).

Penetrasi intenet di Indonesia pada periode 2014-2016 naik signifikan, mencapai 50,8 persen. Data APJII menyebutkan, pada 2014 penetrasi internet di Indonesia baru mencapai 88 juta penduduk.

Globalisasi yang tengah terjadi menyebabkan persaingan bebas yang makin tajam antar pelaku ekonomi, termasuk koperasi. Globalisasi sering dikatakan oleh banyak orang sebagai dunia yang tanpa batas (borderless world), yang ditandai dengan makin terbuka informasi dan makin bebasnya mobilisasi sumberdaya ekonomi antar negara. Tentu saja hal tersebut merupakan satu tantangan tersendiri bagi para pelaku ekonomi Indonesia. Hilangnya berbagai macam sistem tata niaga dan aturan yang selama ini “melindungi” koperasi, merupakan tantangan sekaligus kesempatan bagi koperasi yang harus dapat dijawab dan dimanfaatkan oleh koperasi.

Oleh karena itu diperlukan strategi yang terpadu dan semangat yang tinggi dari para pegiat koperasi, sehingga dalam era globalisasi ini tidak menjadi penonton atau buyer, tetapi juga sebagai produsen. Strategi ini dasarnya adalah revitalisasi koperasi agar koperasi memiliki jiwa dan daya dorong yang kuat dari anggotanya, mampu mendayagunakan sumberdaya secara optimal, mampu mempertahankan diri dalam menghadapi krisis, sekaligus meletakkan dasar yang kuat untuk tumbuh dan berkembang di masa depan. Intinya koperasi harus menjadi organisasi yang profesioanal, kredibel, menarik (bagi masyarakat, pembeli, supplier dan perbankan), manajemen organisasinya fleksibel, anggotanya mempunyai komitmen kuat untuk mengembangkan koperasi dan dirinya sendiri serta berorientasi pada kualitas.

Nilai dan manfaat teknologi informasi pada kegiatan perkoperasian menitikberatkan pada apakah fungsi sistem yang digunakan telah cukup efektif memberikan nilai tambah dalam prosedur pelayanan kepada anggota. Suatu produk teknologi informasi, khususnya perangkat lunak dan aplikasinya, banyak memegang peranan penting dalam hal ini.

Penerapan teknologi koperasi tersebut merupakan bagian dari program Reformasi Total Koperasi yang sudah digulirkan Kemenkop dan UKM, yaitu pengembangan koperasi. Reformasi Koperasi itu meliputi rehabilitasi koperasi, reorientasi koperasi, dan pengembangan koperasi dengan tujuan membangun koperasi yang berkualitas.

Digitalisasi koperasi sangat penting untuk menunjang regenerasi koperasi. TIK juga menjadi sarana efektif untuk regenerasi SDM koperasi, guna menjangkau generasi muda. Seperti diketahui, saat ini penetrasi koperasi pada kelompok usia muda masih terbatas. Sehingga melalui Teknologi Informasi dan juga internet, kaum muda bisa ikut berpartisipasi aktif dalam pengembangan koperasi. Hal ini karena kaum muda saat ini sangat dekat dan tidak bisa terpisahkan dengan internet dalam kesehariannya.

Dengan mengembangkan elemen teknologi informasi ini, koperasi dapat meraih perhatian terlebih generasi muda. Selain itu, para anggota koperasi juga lebih mudah dalam mengakses program atau produk koperasi dimanapun mereka berada. Dengan demikian diharapkan koperasi mampu memenuhi kebutuhan anggotanya. [liz/berbagai sumber]

Related posts

Leave a Comment