Peran Koperasi dan BMT dalam Pengelolaan Dana Ummat

Koperasi didirikan atas dasar adanya kesamaan kebutuhan diantara para anggotanya. Kebutuhan yang sama ini selanjutnya diusahakan pemenuhannya melalui pembentukan perusahaan. Dengan adannya perusahaan yang dimiliki secara bersama-sama, maka diharapkan kebutuhan-kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan cara yang lebih baik dibandingkan dengan dilakukan oleh masing-masing anggota secara perorangan.

Koperasi adalah gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan, bukan perkumpulan modal. Sebagai gerakan ekonomi rakyat, Koperasi berusaha mengembangkan dirinya untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya serta kesejahteraan masyarakat pada umumnya melalui pelayanan kebutuhan mereka.

Walaupun Koperasi juga mencari keuntungan, namun keuntungan bukanlah tujuan utama Koperasi. Yang lebih diutamakan oleh Koperasi adalah pemenuhan kebutuhan ekonomi para anggotanya, serta peningkatan kesejahteraan ekonomi anggota masyarakat disekitarnya.

Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) terdiri dari dua istilah, yaitu baitul maal dan baitut tamwil. Baitul maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit, seperti zakat, infak dan shodaqoh. Sedangkan baitut tamwil sebagai usaha pengumpulan dan dan penyaluran dana komersial.

BMT merupakan salah satu model lembaga keuangan syariah paling sederhana yang saat ini banyak muncul dan tenggelam di Indonesia. Sayangnya, gairah munculnya begitu banyak BMT di Indonesia tidak didukung oleh faktor-faktor pendukung yang memungkinkan BMT untuk terus berkembang dan berjalan dengan baik.

Koperasi dan BMT yang sangat menghargai nilai-nilai kemanusian dan sangat sesuai dengan sistem perekonomian yang diatur dalam sistem perekonomian Islam, di mana Koperasi dan BMT jauh dari praktek-praktek sistem kapitalis maupun sistem sosial, karena dalam koperasi dan BMT sangat menghargai kreatifitas dan kemampuan pribadi-pribadi tanpa mengorbankan kepentingan umum, dimana sistem ini tidak ada dalam sistem kapitalis maupun sosialis.

Dalam Koperasi tidak dikenal dengan istilah keuntungan tapi lebih ditekankan pada SHU (Sisa Hasil Usaha) hal ini ditekankan karena koperasi dalam menjalankan usahanya tidak semata-mata untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya namun Koperasi berusaha untuk menciptakan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sistem seperti ini dapat dibuktikan ketika Koperasi mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) di dalam rapat ini Koperasi akan membagikan SHU kepada anggotanya sesuai dengan partisipasi yang dilakukan terhadap koperasi berupa transaksi usaha.

Selain Koperasi sebagai alternatif sumber dana bagi kemaslahatan umat, BMT merupakan pilihan lain sebagai sumber dana di luar perbankkan yang dilandasi sistem ekonomi Islam. Dimana juga ditekan pada penghargaan terhadap kreatifitas umat manusia demi memenuhi kebutuhan ekonominya dengan menjauhkan dari praktek-praktek kekerasan, penindasan maupun intimidasi.

Nilai-nilai Koperasi dan BMT tidak mungkin dapat terwujud tanpa kapasitas dan kualitas pengurus/pengelola koperasi. Oleh karena itu, profesionalitas sangat penting dalam menjaga keberlangsungan koperasi.

 

 

Sumber :

Mikhriani: Koperasi dan BMT, Jurnal Dakwah, Vol. XI, No. 1 Tahun 2011 33.

Related posts

Leave a Comment