Zakat Perhiasan Emas dan Perak

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak. Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat dari segi dalil dan lebih aman adalah pendapat yang menyatakan wajib mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak jika telah mencapai nishab dan lewat satu tahun, baik perhiasan yang dipakai maupun yang disimpan. Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut.

  1. Pengertian umum firman Allah swt., ”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”(At-Taubah: 34)

Ibnu Umar r.a. berkata, ”Harta yang dikeluarkan zakatnya tidak termasuk harta yang disimpan (kanz) meskipun dia terpendam di bawah tujuh lapis bumi, sedangkan harta yang terlihat tapi bila tidak keluarkan zakatnya maka dia termasuk harta yang tersimpan (kanz).”

  1. Pengertian umum hadits-hadits yang menyuruh mengeluarkan zakat emas dan perak, seperti sabda Rasulullah saw.

”Siapa pun yang memiliki emas tapi tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari Kiamat kelak akan dibuatkan untuknya lempengan-lempengan api, lalu ia digosok dengannya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

  1. Ada beberapa hadits yang secara khusus mengharuskan mengeluarkan zakat perhiasan dan menjelaskan ancaman bagi yang tidak mengeluarkannya. Salah satunya adalah hadits ’Amr bin Syu’aib. Ia menyatakan bahwa ayahnya meriwayatkan dari kakeknya bahwa suatu ketika seorang wanita menjumpai Rasulullah saw. Ia membawa putrinya yang saat itu di tangannya melingkar dua gelang tebal yang terbuat dari emas. Rasulullah saw. bertanya, ”Apakah engkau mengeluarkan zakat (gelangnya) ini?” Wanita itu menjawab, ”Tidak.” Rasulullah saw. berkata, ”Apakah engkau senang bila pada hari Kiamat kelak Allah memasangkan dua gelang (di tangannya) dari api neraka?” Maka, saat itu juga dia melepaskan kedua gelang tersebut dan meletakkannya di hadapan Nabi saw. seraya berkata, ”Keduanya kuserahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam hadits lain, Ummu Salamah ra. menyatakan, “Aku pernah memakai beberapa perhiasan emas, maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk harta simpanan (kanz)?’ Rasulullah saw. menjawab, ”Setiap harta yang telah mencapai (nishab) zakat lalu dikeluarkan zakatnya, maka dia tidak termasuk harta simpanan (kanz).” (H.R. Abu Dawud)

Kedua hadits di atas diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang diriwayatkan oleh ”Aisyah ra. dan Asma’ binti Yazid ra.

  1. Beberapa sahabat, seperti Ibnu Mas’ud ra., pernah ditanya oleh seorang wanita tentang perhiasan miliknya, apakah harus dikeluarkan zakatnya? Ibnu Mas’ud menjawab, ”Jika mencapai nilai 200 Dirham, maka keluarkanlah zakatnya.” Wanita itu bertanya lebih lanjut, ”Aku mengasuh beberapa anak yatim, apakah aku boleh membayar zakatnya kepada mereka?” Ibnu Mas’ud menjawab, ”Ya.”

’Aisyah ra. pernah berkata, ”Tidak masalah memakai perhiasan selama telah dikeluarkan zakatnya.”

Namun demikian, ada beberapa atsar dari Ibnu Umar, Jabir bin Abdulah, ’Aisyah, Asma’ binti Abu Bakar, semoga Allah meridhai mereka semua, yang menjelaskan bahwa perhiasan tidak perlu dikeluarkan zakatnya. Pendapat ini pula yang dinyatakan oleh Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Tidak diragukan bahwa pendapat pertama, yakni wajib mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak bila telah mencapai nishab dan lewat satu tahun, adalah pendapat yang lebih kuat dari segi dalil dan lebih berhati-hati dari segi pengalaman, serta lebih tepat untuk menghindari khilaf. Pendapat inilah yang dinyatakan oleh Abu Hanifah, Ibnu Hazn dan beberapa ulama salaf. Wallahu a’alam.

Sumber : Fiqih Sunah untuk Wanita oleh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim

Related posts

Leave a Comment